Gunung Lawu Puncak

Kalau naik ke Lawu gak usah bawa apa-apaan!disana tuh banyak warung, lagipula berat-beratin aja….Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan beberapa orang yang pernah sowan ke Gunung Lawu, Lawu sendiri terbagi dalam dua wilayah yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lucu juga kedengarannya, naik Gunung dengan beban berat di pundak yang isinya banyak makanan, namun ketika berada di atas banyak warung yang menjual makanan. Gunung Lawu memiliki banyak cerita, mulai dari yang biasa hingga cerita lain yang berbau mistis. Bukan itu semua yang kita cari, Lawu menawarkan pesonanya yang beragam. Tawangmangu, sebagai pintu masuk Lawu dari arah kota Solo, Jawa Tengah merupakan daerah wisata andalan. Sebaliknya dari arah kota Magetan, Jawa Timur kita dihadapi oleh megahnya Telaga Sarangan. Tawangmangu sendiri memiliki berbagai daerah wisata andalan, seperti Air Terjun Grojogan Sewu dan juga Astana Giribangun yang merupakan tempat dimakamkannya mantan Presiden RI kedua Soeharto. Lawu memiliki dua pintu masuk yang biasa dipakai oleh para pendaki maupun penziarah. Nah...kok ada penziarah? Lawu dikenal juga sebagai salah satu Gunung Mistis di tanah Jawa dan banyak situs serta tempat-tempat petilasan disana. Kaitannya Lawu sangat erat dengan keberadaan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit terakhir yang menyepi di Lawu. Cemoro Kandang, merupakan pintu masuk Lawu wilayah Jawa Tengah dan Cemoro Sewu pintu masuk Lawu dari wilayah Jawa Timur. Jarak keduanya hanya terpaut 300 meter yang dipisahi oleh sebuah aliran sungai. Lucu juga kelihatannya, naik satu Gunung sekaligus masuk dua wilayah Jawa. Idealnya untuk mendaki dan mendapat cuaca yang cerah ialah pada kisaran Juli hingga September, pada saat itu pula dapat terlihat jelas pemandangan yang eksotis sepanjang mata memandang. Apabila mendaki dari Cemoro Kandang, diharapkan lebih berhati-hati karena rutenya melewati lerengan dengan jurang terjal disetiap sisinya serta jalan tanah akan berubah licin apabila hujan turun namun berdebu ketika musim kemarau. Jangan khawatir, senuanya akan terbayar dengan pemandangan dan suasana yang takkan terbeli, keindahan Puncak-Puncak Gunung di tanah Jawa terhampar luas dari sini, mulai dari Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Ungaran hingga Slamet nampak jelas dimata serta tampak pula Kota Solo yang terlihat kecil. Sepanjang perjalananGunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.JALUR CEMORO SEWURute Cemoro Sewu lebih akrab ketimbang Cemoro Kandang, bisa dilihat dari terawatnya jalan setapak dan pos-pos atau shelter peristirahatan hingga Puncak Hargo Dumilah. Pos Cemoro Sewu dikelola oleh kelompok Pecinta Alam yang tergabung dalam Paguyuban Giri Lawu. Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 serta di Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5. Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 shelter. Sedangkan pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata. Pada awal perjalanan dari Pos Pendaftaran Cemoro Sewu terkesan begitu rindang, pintu gerbangnya kolosal banget, dibuat seperti layaknya memasuki gerbang kerajaan pada jaman dahulu. Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam. Di Cemorosewu kita harus melaporkan diri ke pos pendaftaran serta melengkapi perbekalan pendakian..Selepas itu, akan menemui perkebunan rakyat yang banyak ditanami wortel dan kol. Ada hal menarik, ketika menemukan orang pengangkut hasil bumi tersebut dan ternyata wanita!! Bisa dibayangkan, memikul beban wortel dalam sebuah karung berbobot 50 kg dan membawa turun menuju pos tempat mobil pengangkut menunggu. Padahal jarak antaranya lumayan jauh, yang gak bisa dibayangin jalannya itu loh, nuanjak buanget. Dalam pendakian dari Cemorosewu menuju puncak, kita akan menjumpai 4 buah pondok pada ketinggian berturut-turut, yaitu 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan 2.800 m dan Pesanggrahan Argo Dalem pada ketinggian 3.100 m dari permukaan air lautJalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa hamparan luas batu alam. Pemandangan amat indah dengan batu-batu besar berserakan, agaknya pendaki tampak seperti kurcaci yang sedang berjalan. Pos 4 merupakan jalur dengan anak tangga yang menanjak. Agak melelahkan memang, padahal hendak mendaki gunung ternyata mendaki tangga, he.. Tangga batu tersebut terawat dengan baik berikut pegangannya, ditambah pemandangan yang luar biasa. Rasanya bagai mendaki ke negeri khayangan, dan itu memang nyata ketika memasuki pos 4, seperti tak ada yang membatasi dengan awan. Pos ke 4 baru direnovasi, jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Jangan khawatir, semua akan terbayar dengan pemandangan eksotis kembali. Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan dan dari sini juga dapat terlihat kemegahan Puncak Hargo Dumilah. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Jalur tersebut sampai Sendang Drajat cukup memukau, dari kejauhan tampak hamparan jalan dari bebatuan meliuk laksana ular dan bisa pula dibilang seperti jalan di Tembok Cina. Sendang Drajat merupakan sebuah mata air, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus. Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Sumur ini berupa lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap. Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. Konon di dalam sumur Jolotundho ini sering digunakan untuk bertapa, dan digunakan guru-guru untuk memberi wejangan/pelajaran kepada muridnya. Di Sendang Drajat ternyata terdapat warung, jadi setelah lelah mendaki yang rasa-rasanya tak tentu rimba, akhirnya bisa tertawa dengan kehadiran warung penyelamat. Menyeruput teh hangat sangat dihalalkan di tempat ini apabila ingin mandi maupun buang air, ditempat ini sudah disediakan MCK yang untuk ukuran disana layaknya paviliun mewah. Dari sisi utara Sendang Drajat tampak pemandangan luar biasa, dari timur terlihat berbagai Puncak Gunung di wilayah Jawa Timur, seperti Batok, Wilis bahkan Semeru yang mengepul di kejauhan. Dari sini merupakan tempat yang paling ideal untuk melihat sunrise, dijamin akan terpana akan keindahannya. Dari Pos 5 pendaki dapat langsung menuju ke Puncak Hargodumilah, Puncak Hargo Puruso, atau Puncak Hargo Tulling. Bisa juga langsung berjiarah ke makam kuno di Hargo Dalem, atau Pasar Dieng/Pasar Setan. Di sepanjang jalur ini banyak tumbuh Edelweis dan padang rumput yang terdapat dilereng-lereng gunung menuju puncak-puncak gunung. Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem utuk berjiarah, secara mistis disinilah tempatnya Eyang Sunan Lawu. Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu sebagai tanda atau titik puncak tertinggi Lawu. Tugu dengan ketinggian sekitar 1,5 meter tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pendaki, biasanya mereka berfoto ria di tugu tersebut sebagai tanda bahwa mereka telah menggapai puncak LawuNamun sayang, aksi vandalisme masih kerap terjadi, sampai-sampai sekarang tugu tersebut penuh coretan. . Dari sini pula terhampar pemandangan tanpa batas sejauh mata memandang, melihat puncak-puncak gunung lain layaknya paku bumi abadi, mempesona sekaligus bersyukur atas kebesaran Tuhan. Yang agak unik ialah adanya sebuah perusahaan yang menjadi sponsor tugu tersebut, barangkali sikap kepedulian, atau mungkin ngalap berkah Lawu. Turun kebawah, akan menemui dataran luas yakni pelataran Hargo Dalem. Suasana Hargo Dalem layaknya sebuah perkampungan, terdapat berbagai bangunan Joglo khas Jawa disini. Ada yang menarik, yakni rumah yang terbentuk dari susunan kaleng serta botol mineral bekas yang menandakan betapa banyaknya sampah sekaligus mencerminkan kepedulian dibalut kreativitas. JALUR CEMORO KANDANGDi Pos Cemoro Kandang terdapat MCK, mushola, dan sebuah ruangan kecil untuk beristirahat para pendaki dan peziarah. Agak keatas terdapat sebuah aula terbuka yang dapat digunakan untuk mengadakan acara-acara bersama. Di depan Pos ini juga banyak terdapat warung-warung makanan dan minuman yang mengugah selera denag harga yang realtif terjangkau. Pos Cemoro Kandang ini dikelola oleh Kelompok Pecinta Alam yang tergabung dalam wadah Anak Gunung Lawu. Jalur Cemoro Kandang jaraknya sedikit lebih jauh dibandingkan dengan jalur Cemoro Sewu, namun jalur ini agak landai sehingga dapat dilalui pejiarah dengan menggunakan kuda yang disewa dari Tawangmangu. Pos-pos di sepanjang jalur ini berupa bangunan beratap yang sudah tidak terawat namun masih menyisakan dinding, kecuali di Pos 1 dan Pos 2 dalam kondisi masih utuh dan pada hari-hari tertentu digunakan untuk berjualan makanan. Jalur ini didominasi tanah merah, sehingga pada saat turun hujan atau sesudah turun hujan jalur sangat licin. Dari Cemoro Kandang menuju Pos 1 (Taman Sari Bawah) jalur agak landai, selama perjalanan bila cuaca cerah tak berawan pendaki akan dapat menyaksikan puncak Cokro Suryo. Sebelum mencapai Pos 1 terdapat jalan setapak yang menuju ke Air Terjun. Di jalur ini seringkali bau belerang sudah mulai tercium. Pos 1 terdapat bangunan yang dapat melindungi pendaki dari hujan dan terpaan angin kencang. Pada hari Kamis - Minggu biasanya terdapat pedagang makanan yang menempati Pos ini. Menuju Pos 2 (Taman Sari Atas) jalur sedikit lebih curam dibandingkan dengan jalur Pos 1. dari sebelah kanan tampak Kawah Condrodimuko tak henti-hentinya menyemburkan asap dan bau belerang disertai suara deburan. Kawah ini diapit oleh dua buah gunung, yakni puncak Cokro Suryo dan puncak Gunung Lawu lainnya yang nampak begitu jelas di sepanjang Jalur. Mulai dari Jalur 2 ini hingga menuju puncak banyak ditumbuhi bunga Edelweis. Umumnya di sepanjang pos 1 dan pos 2 pada bulan-bulan tertentu seperti maulud dan suro banyak pedagang yang berjualan.Dari Pos 2 Menuju Pos 3 kita akan melewati sebuah sungai kecil dan sebuah Sumber Air. Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Tebing batu yang sangat indah di sisi kanan sedangkan sisi kiri berupa jurang. Jalur ini sempit menyusuri lereng yang melingkari puncak Cokro Suryo, dengan sisi Jurang Pangarip-arip yang sangat dalam. Jalur ini selain menyusuri jurang juga rawan longsor, bila turun hujan sangat licin dan dalam cuaca berkabut pendaki harus ekstra hati-hati karena jalur sering tidak kelihatan. Bangunan Pos 3 sudah rusak namun masih dapat digunakan untuk berlindung dari hujan dan angin. Selepas Pos 3 kita akan melewati salah satu tempat yang dikeramatkan masyarakat yakni sebuah sumber air yang bernama Sendang Panguripan. Sendang ini bentuknya mirip sebuah sumur dengan air yang jernih dan dingin. Menuju Pos 4 Jalur meliuk-liuk menyusuri lereng terjal, terdapat jalan pintas yang sangat terjal dan licin bila hujan turun. Bunga Edelweis tumbuh banyak sekali dilereng-lereng sepanjang jalur ini. Dari Pos 4 Menuju Pos 5 Jalur bervariasi agak mendatar, sedikit menurun, sedikit mendaki, pemandangan sangat indah akan kita saksikan di sepanjang jalur ini. Jalur berliku-liku, batuan berserakan, padang rumput, padang edelweis, batang-batang kering laksana memasuki negeri yang berbeda. Disini pula dapat melihat dengan jelas beberapa puncak-puncak nampak bermunculan, puncak Cokro Suryo kelihatan gagah membumbung.Dari Pos 5 pendaki dapat langsung menuju ke Puncak Hargodumilah, Puncak Hargo Puruso, atau Puncak Hargo Tulling. Bisa juga langsung berjiarah ke makam kuno di Hargo Dalem, atau Pasar Dieng/Pasar Setan. Di sepanjang jalur ini banyak tumbuh Edelweis dan padang rumput yang terdapat dilereng-lereng gunung menuju puncak-puncak gunung. Rute Cemoro Kandang membuat pendaki leluasa melihat pemandangan, terlebih selepas Pos 3. Jalan setapak yang dilalui seperti melintasi jembatan awan. Lawu menawarkan pesonanya yang tiada tara, pesan terakhir ialah, jangan terlalu mengharapkan warung di Lawu, membawa logistik tetap dianjurkan sebab kita tak tahu pasti apakah warung buka karena mengeceknya harus sampai puncak. Jadi bertindak safety lebih penting. Selamat ber-Travelling ria. (adm)